Hayden Jadi Pemimpin Ducati, Bukan Rossi
GPONE
Manajar Sport Pramac Ducati, Carlo Pernat (kanan).
— Direktur
Olahraga Pramac Ducati, Carlo Pernat, menilai bahwa saat ini Nicky
Hayden merupakan pebalap utama tim pabrik Ducati. Performa yang bertolak
belakang antara Hayden dan rekan setimnya,
Valentino Rossi, membuat
mantan manajer Marco Simoncelli tersebut berani melontarkan pernyataan
demikian.
Memang, fakta berbicara demikian. Sejak bergabung
dengan Ducati pada awal musim 2011, "The Doctor" belum pernah meraih
hasil bagus. Malah, juara dunia tujuh kali MotoGP tersebut kerap
mengungkapkan kekecewaannya karena belum mendapatkan pengesetan yang
tepat sehingga muncul rumor bahwa dia akan meninggalkan tim Italia
tersebut pada akhir musim 2012; meskipun Rossi sudah membantah dan
berjanji menyelesaikan kontraknya dengan Ducati.
Hayden saat ini pemimpin di Ducati. Mendengar berbagai komentar
Valentino, terlihat cukup jelas dia sudah menyerah. Semua lelucon itu
menunjukkan bahwa dia sudah tahu, Ducati hanya bisa ditunggangi dengan
satu cara.
-- Carlo Pernat
"Hayden saat ini adalah pemimpin di Ducati, seperti halnya
Cal Crutchlow di tim Yamaha Tech 3. Mendengar berbagai komentar
Valentino, terlihat cukup jelas bahwa dia sudah menyerah. Semua lelucon
itu menunjukkan bahwa dia sudah tahu, Ducati hanya bisa ditunggangi
dengan satu cara," ujar Pernat, yang juga bekas manajer Loris Capirossi.
"Dia
sudah mengonfirmasi itu, bahwa mulai sekarang, dia akan memulai dari
pengesetan dasar dan bekerja dari sana. Itu artinya, tidak akan ada
perubahan lebih besar lagi."
Pernat pun memuji penampilan pebalap
Repsol Honda, Casey Stoner, yang berhasil mengalahkan dua pebalap
Spanyol, Jorge Lorenzo dan Dani Pedrosa, pada seri kedua di Sirkuit
Jerez, Spanyol, akhir pekan lalu. Dia mengakui, Stoner membuat kejutan
dalam balapan basah yang berlangsung pada hari Minggu (29/4/2012)
sehingga bisa mewujudkan impian untuk meraih kemenangan perdana dalam
kariernya di sirkuit itu.
"Pertama, saya ingin mengatakan bahwa
balapan di Jerez merupakan salah satu balapan terbaik Stoner," ungkap
manajer asal Italia ini. "Itu juga lebih merupakan sebuah kemenangan
psikologis karena terjadi di rumah Lorenzo, pebalap yang hampir meraih
kemenangan. Saya pikir, kemenangan ini akan sangat membantu Casey karena
hal itu merupakan respons sempurna atas apa yang dilakukan Lorenzo di
Qatar."
Pada seri pembuka di Sirkuit Losail, Qatar, awal April
lalu, Lorenzo keluar sebagai pemenang. Adapun Stoner, yang merajai
sirkuit itu pada lima musim sebelumnya, finis di urutan ketiga. Akan
tetapi di Jerez, tempat Lorenzo menjadi jawara dalam dua tahun terakhir
(serta meraih posisi pemuncak untuk balapan akhir pekan kemarin), Stoner
bisa membalasnya.
"Saya tidak mengira Jorge bakal terlalu sulit
(untuk ditaklukkan). Dia mungkin membuat kesalahan memilih ban, tetapi
dia meraih kekalahan dengan menunjukkan bahwa dirinya seorang petarung.
Namun, tidak demikian dengan Pedrosa. Anda bisa melihat dia sangat takut
di titik yang basah pada trek, yang memperlihatkan bahwa dia bukan
pebalap yang 'komplet'."
"Dia kehilangan waktu lima detik karena
itu, dan kemudian bisa bangkit ketika trek benar-benar kering, serta
finis hanya dua detik di belakang pemenang. Meskipun bisa naik podium,
dia mungkin pecundang besar pada hari itu."
Pernat pun tak lupa
memberikan komentar terhadap pebalap muda fenomenal, Romano Fenati. Di
usianya yang baru 16 tahun, dan menjalani debutnya di arena
grand prix, Fenati tampil memesona dengan memenangi balapan Moto3. Oleh karenanya, ia kini memimpin klasemen sementara (setelah jadi
runner-up di Qatar).
"Fenati
pantas mendapatkan aplaus khusus. Sebagai seorang pebalap, dia
tampaknya sudah sangat dewasa dibandingkan usianya yang tertera di kartu
identitasnya. Dia sangat dewasa dan tenang saat balapan. Dua faktor itu
sangat berguna untuk menjadi seorang juara. Federasi Italia juga sudah
melakukan sebuah pekerjaan hebat dalam program mereka."